FLS3N SD Purbalingga 2026 Jadi Ruang Tumbuh Kreativitas dan Karakter Anak

PURBALINGGA, DINDIKBUD – Semangat Hari Pendidikan Nasional 2026 di Kabupaten Purbalingga tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui penguatan kreativitas peserta didik lewat Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Jenjang SD Tahun 2026 yang digelar di SD Bina Harapan Purbalingga, Sabtu (9/5/2026).
Kegiatan berlangsung semarak dan penuh antusiasme. Ratusan peserta dari berbagai sekolah dasar di Kabupaten Purbalingga tampak hadir mengikuti perlombaan dengan penuh percaya diri dan semangat kompetitif yang sehat. Beragam cabang lomba seni dan sastra ditampilkan sebagai wadah untuk menggali bakat, kreativitas, dan potensi peserta didik sejak dini.
Acara secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Heru Sri Wibowo. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa FLS3N bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan ruang pembentukan karakter, keberanian, dan kreativitas anak-anak.
“Anak-anak hebat Purbalingga hari ini sedang belajar menjadi generasi masa depan yang kreatif, percaya diri, dan berkarakter. Menang memang membanggakan, tetapi keberanian untuk tampil, berkarya, dan terus belajar adalah kemenangan yang sesungguhnya,” ujar Heru Sri Wibowo yang disambut tepuk tangan peserta dan guru pendamping.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk menjadikan seni sebagai sarana membangun kepekaan, empati, dan kecintaan terhadap budaya bangsa di tengah perkembangan teknologi dan era digital yang semakin pesat.
“Melalui seni dan sastra, anak-anak belajar menghargai proses, belajar disiplin, belajar bekerja keras, dan belajar mencintai budaya Indonesia. Inilah pendidikan yang sesungguhnya—pendidikan yang memanusiakan manusia,” lanjutnya.
Di akhir sambutan, Heru Sri Wibowo secara resmi membuka kegiatan FLS3N Jenjang SD Tahun 2026 dengan harapan festival tersebut mampu melahirkan generasi muda Purbalingga yang unggul, kreatif, dan membanggakan daerah.
Suasana festival terlihat hidup sejak awal acara. Berbagai cabang lomba seperti gambar bercerita, kriya, menulis cerita, menyanyi solo, mendongeng, tari, hingga pantomim dipentaskan dengan penuh semangat. Setiap peserta tampil menunjukkan bakat dan karakter khas mereka di hadapan dewan juri serta para pendamping.
Nuansa pendidikan yang humanis dan menyenangkan begitu terasa sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar menghargai proses, membangun keberanian tampil, dan mengembangkan kreativitas sejak dini. Dukungan dari kepala sekolah, guru pendamping, serta panitia semakin menambah semarak pelaksanaan festival.
Pelaksanaan FLS3N dinilai menjadi wadah penting dalam menumbuhkan potensi nonakademik siswa. Di tengah tantangan perkembangan zaman, ruang-ruang ekspresi seni dinilai tetap penting untuk membentuk generasi yang kreatif, komunikatif, dan memiliki karakter kuat.
Tema Hari Pendidikan Nasional tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, tercermin kuat dalam pelaksanaan festival tersebut. Kolaborasi sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah menjadi bagian penting dalam menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif, bermakna, dan membangun masa depan generasi muda yang berdaya saing sekaligus berbudaya.
