PGRI Rehab 52 Rumah Tidak Layak Huni

PURBALINGGA, INFO – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Purbalingga mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Purbalingga, H. Tasdi, SH, MM pada rangkaian acara HUT PGRI yang ke-72 ahad (19/11) di alun-alun Purbalingga. Apresiasi tersebut disampaikan Bupati mengingat dalam hari jadinya, PGRI Kabupaten Purbalingga cerdas dan cepat tanggap atas program Bupati untuk merehab rumah tidak layak huni di Kabupaten Purbalingga. Program yang dikenal dengan nama RTLH(Rumah Tidak Layak Huni) tersebut merupakan salah satu program andalan Tasdi setelah terpilih menjadi Bupati Purbalingga. PGRI Purbalingga membantu 52 rumah tidak layak huni pada hari jadinya.
“Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para guru di Kabupaten Purbalingga. Dengan kesejahteraan yang telah diberikan oleh pemerintah, mereka tidak lupa untuk peduli kepada saudara-saudara kita yang kekurangan. Bahkan yang tidak punya rumah”, ungkap Tasdi di depan ribuan guru Kabupaten Purbalingga.
Setelah memberikan sambutan di alun-alun Purbalingga, rombongan Bupati meluncur ke tempat sasaran RTLH yang pertama yaitu di Desa Pengalusan, Kecamatan Mrebet. Di Pengalusan ada 2 penerima rehab rumah tidak layak huni yaitu bapak Tohirin dan Supardi sebesar masing-masing Rp 10.500.000. mereka merasa sangat terbantu dengan adanya program dari Bupati tersebut karena untuk menunjang kehidupan yang lebih baik haruslah berasal dari rumah yang nyaman. Jika rumah sudah nyaman untuk ditinggali, kesehatan akan menjadi lebih baik dan otomatis bisa mencari penghidupan yang baik pula.
Ada hal menarik ketika Tasdi meninjau lokasi RTLH di Mrebet. Tasdi menemukan rumah lain yang belum terradar untuk direhab dan merupakan rumah yang tidak layak huni. Kepada ketua PGRI Purbalingga Sarjono, yang ikut mendampingi, Bupati memberikan “PR” kepada PGRI Purbalingga untuk mengagenda dan menganggarkan rehab di rumah yang tidak layak huni tersebut dan Sarjono pun menyanggupi atas apa yang diinstruksikan Bupati Tasdi.
Di lokasi kedua yaitu di Desa Majapura, Bobotsari RTLH diberikan oleh Dharma Wanita Kecamatan Bobotsari yang mengeluarkan dana sebesarRp 10.500.000. Bantuan dana tersebut diberikan kepada Kodri untuk biaya rehab rumah. Tak hanya dari Dharma wanita, di tempat (Kodri) tersebut Bupati juga memberikan bantuan berupa 20 sak semen untuk menyelesaikan rehab rumah itu. Bobotsari yang sebenarnya dikenal sebagai kota dagang dengan segala pembangunannya ternyata masih menyisakan rumah tidak layak huni yang jumlahnya harus ditekan. Oleh karena itulah Bupati Tasdi berpesan agar semua elemen masyarakat peduli terhadap masalah kemiskinan khususnya di sekitar tempat tinggal kita.
Keadaan yang tak kalah mengharukan adalah ketika Bupati melakukan peletakan batu pertama RTLH di Desa Dagan, Bobotsari yang menjadi lokasi ketiga rombongan Bupati melakukan rehab rumah. Rumah tersebut seperti rumah yang tak punya tetangga. Hanya satu dan terletak di tengah sawah dan jauh dari pemukiman yang ramai. Bantuan yang diberikan oleh SMA Negeri 1 Bobotsari kepada Suyanto warga Dagan senilai Rp 16.500.000 terasa sangat berarti karena keluarga Suyanto memiliki rumah yang jauh dari kata layak dan memang layak dibantu. Tak lupa Bupati pun memberikan bantuan 30 sak semen kepada keluarga Suyanto dan Bupati berpesan semoga bantuan tersebut bermanfaat untuk Suyanto dan keluarga.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati dan SMA 1 Bobotsari yang telah memperhatikan saya”, Kata Suyanto sambil menahan isak tangis haru.
Program RTLH juga dilakukan PGRI Kecamatan karangreja. Dusun Bayeman, Desa Tlahab Lor adalah sasaran tinjau Bupati yang keempat pada rangkaian kegiatan RTLH. Samsul Hadi, S.Pd. yang merupakan ketua PGRI kecamatan karangreja bertutur bahwa PGRI kecamatan Karangreja mendukung sepenuhnya program Bupati untuk mengentaskan Purbalingga dari jerat kemiskinan termasuk program bedah rumah yang dicanangkan pemerintah Kabupaten Purbalingga.
Perlu diketahui bahwa Desa Tlahab Lor adalah Desa dengan terluas nomor 2 setelah Serang di Kabupaten Purbalingga. Lokasinya yang terpisah antara dukuh satu dan lainnya membuat Desa ini menjadi Desa dengan penduduk terpadat dengan jumlah jiwa hampir 9.000 jiwa.
Selanjutnya rombongan menuju tempat terakhir yaitu Desa karangreja. Lokasi yang terjal mengharuskan Bupati beserta rombongan harus berhati-hati untuk sampai ke lokasi sasaran tinjauan RTLH. Rasa lelah terbayar kala Bupati menyaksikan lokasi RTLH yang telah dibangun sejak sebulan lalu hampir mencapai finishing.
“Saya puas karena PGRI karangreja pun begitu cepat tanggap merespon apa yang telah diprogramkan Pemerintah Kabupaten Puebalingga khususnya dalam hal RTLH”, kata Tasdi yang didampingi pengawas rehab Suparto, S.Pd.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.